*Oleh: Ust. Panaekan, LC
(Ketua
Persatuan Muballigh Dumai)
Mengenal
Paham Komunisme
Dalam
timbangan syariat Islam, komunisme bukan sekadar varian teori ekonomi atau
sistem tata negara biasa, melainkan sebuah ideologi utuh yang menusuk langsung
ke jantung akidah Islamiyah. Doktrin materialisme dialektis yang menjadi tulang
punggung paham ini menolak keberadaan Sang Pencipta, alam ghaib, serta hari
pembalasan. Manusia dipandang semata-mata sebagai materi yang bergerak, hidup,
lalu binasa ditelan sangkala zaman tanpa pertanggungjawaban ukhrawi.
Pandangan
Islam Terhadap Paham Komunisme
Al-Qur'an
telah membantah keras cara pandang kaum materialis ini dalam firma Allah SWT,
yaitu:
Dan mereka berkata: "Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di
dunia saja, kita mati dan kita hidup dan tidak ada yang akan membinasakan kita
selain masa", dan mereka sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan tentang
itu, mereka tidak lain hanyalah menduga-duga saja. (Surah
Al-Jatsiyah ayat 24)
Ayat
ini menyadarkan manusia bahwa menafikan hari kebangkitan dan meyakini bahwa
kehidupan hanyalah sebatas dunia fana adalah kekeliruan fatal yang mencabut
status keimanan seorang hamba dari lingkaran tauhid.
Kesesatan Filosofis Komunisme
Kesesatan
filosofis tersebut kemudian merembes ke dalam sendi-sendi muamalah dan hak
asasi manusia. Komunisme memaksakan doktrin kepemilikan mutlak di tangan penguasa
dengan merampas hak milik pribadi yang dianggap sebagai sumber ketimpangan kelas.
Padahal, syariat Islam secara tegas menempatkan perlindungan terhadap harta (hifdz al-mal) sebagai pilar suci
tujuan syariat (maqashid
asy-syari'ah). Hal ini sebagaimana firman Allah Ta'ala yang mengharamkan
perampasan harta tanpa hak. yaitu:
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta
sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku
dengan suka sama-suka di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu;
sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu. (Surah An-Nisa' ayat 29)
Rasulullah Saw mengukuhkannya dalam Khutbah Wada' bahwa darah, harta, serta kehormatan setiap
mukmin adalah suci dan terlindungi. Islam menolak keserakahan modal bukan
dengan cara menghalalkan perampasan aset individu secara tirani, melainkan
melalui jalan keadilan distributif yang beradab lewat instrumen zakat, infak,
sedekah, serta pengharaman riba dan monopoli.
Kerusakan Pemahaman Komunis di tingkat
sosial
Kerusakan
paling nyata di tingkat sosial adalah doktrin pertentangan kelas (Klassenkampf) yang menuntut
penghancuran satu golongan oleh golongan lain lewat revolusi dan pertumpahan
darah. Komunisme menuduh agama sebagai racun penidur kesadaran kaum buruh,
padahal Islam justru hadir sebagai risalah pembebas manusia dari segala bentuk
tirani thaghut menuju keadilan sejati.
Perbedaan
tingkat rezeki di tengah manusia bukanlah alasan untuk memelihara dendam
sejarah atau membantai sesama, melainkan sunnatullah yang dirancang agar
manusia saling membutuhkan, tolong-menolong, dan bersinergi dalam ketaqwaan,
sebagaimana ditegaskan dalam firman Allah SWT, yaitu:
Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Tuhanmu? Kami telah menentukan
antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia, dan kami telah
meninggikan sebahagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat, agar
sebagian mereka dapat mempergunakan sebagian yang lain. Dan rahmat Tuhanmu
lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan. (Surah Az-Zukhruf ayat 32)
Dengan
demikian, penolakan seorang muslim terhadap komunisme berpijak pada fondasi
yang tak tergoyahkan. Bahwa mempertahankan tauhid, memuliakan jiwa manusia,
serta menjaga keharmonisan masyarakat adalah amanah ilahi yang tidak boleh
diruntuhkan oleh ideologi materialisme ateistik yang anti-tuhan.(*)