*Oleh: Agustri,
S.H.I., M.E.Sy (Muballigh PMD Kota Dumai)
Keluarga merupakan institusi pertama dan utama dalam
pembentukan karakter manusia. Dalam Islam, keluarga bukan sekadar ikatan
biologis atau hubungan sosial, tetapi merupakan amanah Allah SWT. yang harus
dibangun di atas fondasi iman, ketakwaan, dan akhlak mulia. Keberkahan keluarga
tidak selalu ditandai dengan banyaknya harta atau tingginya kedudukan,
melainkan hadirnya ketenangan (sakinah),
kasih sayang (mawaddah), serta rahmat
Allah dalam setiap aspek kehidupan. Allah SWT berfirman:
"Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah
Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri agar kamu
cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa
kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda
bagi kaum yang berpikir." (QS. Ar-Rum [30]: 21).
Ayat tersebut menegaskan bahwa tujuan utama kehidupan
berkeluarga adalah terciptanya ketenteraman jiwa yang dibangun melalui kasih
sayang dan rahmat Allah SWT. Oleh karena itu, keluarga yang diberkahi adalah
keluarga yang menjadikan nilai-nilai Islam sebagai pedoman dalam setiap
keputusan dan aktivitasnya.
Ada banyak hal yang dapat dilakukan oleh seorang muslim dalam membangun keluarga yang diberkahi oleh Allah SWT, diantaranya adalah Kunci pertama adalah membangun nilai-nilai ketakwaan
kepada Allah SWT bagi seluruh komponen dalam rumah tangga (suami, istri, dan anak). Ketakwaan akan melahirkan kejujuran, tanggung jawab,
kesabaran, serta rasa syukur dalam menghadapi berbagai persoalan rumah tangga. Hal ini sebagaimana firman Allah SWT Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia
akan memberikan jalan keluar baginya dan memberinya rezeki dari arah yang tidak
disangka-sangka." (QS. At-Talaq [65]: 2–3).
Ayat ini menunjukkan bahwa keberkahan rezeki dan
kemudahan hidup berawal dari ketakwaan, bukan semata-mata dari besarnya
penghasilan. Banyak orang berpenghasilan besar namun karena keberkahan tidak didapatkan, maka selalu saja ada rasa kurang dan tidak cukup. Sebaliknya ada orang yang penghasilannya mungkin menengah ke bawah, namun karena keberkahan itu sendiri, keluarga mereka bahagia, aman, dan tentram.
Kemudian kunci kedua adalah menegakkan ibadah dalam keluarga. Misalnya saja mengajak anggota keluarga untuk sholat
berjamaah, membaca Al-Qur'an, berzikir, dan berdoa bersama tentunya akan memperkuat hubungan
spiritual antaranggota keluarga itu sendiri. Rasulullah Saw bersabda "Semoga Allah
merahmati seorang laki-laki yang bangun pada malam hari lalu salat dan
membangunkan istrinya untuk salat." (HR. Abu Dawud, No. 1308).
Hadis tersebut menunjukkan bahwa ibadah yang dilakukan
bersama akan menghadirkan rahmat Allah SWT dalam rumah tangga. Dan masih sangat banyak dalil-dalil yang lainnya yang mempertegas hal tersebut.
Selanjutnya, Kunci ketiga adalah menanamkan dalam kehidupan keluarga pentingnya akhlak
mulia dan saling menghormati. Suami dan istri diperintahkan untuk memperlakukan
pasangannya dengan penuh kelembutan dan kasih sayang, dan orang tua menghargai serta melindingi anak-anaknya dengan baik dan benar sesuai ketentuan Allah SWT. Rasulullah Saw bersabda "Sebaik-baik
kalian adalah yang paling baik terhadap keluarganya, dan aku adalah orang yang
paling baik terhadap keluargaku." (HR.
At-Tirmidzi, No. 3895).
Hadis ini menegaskan bahwa ukuran kemuliaan seseorang
dalam Islam tidak hanya dilihat dari ibadah ritualnya, tetapi juga dari
akhlaknya kepada keluarga. Selain itu, Islam mendorong setiap keluarga untuk mendidik
anak-anak dengan nilai-nilai keimanan dan akhlak. Allah SWT berfirman Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah
dirimu dan keluargamu dari api neraka." (QS. At-Tahrim [66]: 6).
Ayat ini mengandung kewajiban orang tua untuk
membimbing, mendidik, dan menjadi teladan bagi anak-anaknya agar tumbuh sebagai
generasi yang saleh dan bertakwa. Kewajiban orang tua untuk melindungi dan menjaga keluarganya tidak hanya dalam persoalan dunia, namun juga yang terpenting adalah kehidupan akhirat mereka. Serta orang tua harus memastikan setiap penghasilan yang mereka bawa pulang ke rumah untuk dikonsumsi oleh anggota keluarga adalah berasal dari hal yang halal. Sebab segala sesuatu yang didapat dan dimakan ada unsur keharamannya, maka dia akan berdampak kepada pola pikir, akhlak, perbuatan daripada anggota keluarga itu sendiri.
Selain tiga hal di atas, hal yang harus dilakukan adalah memperbanyak doa kepada Allah SWT.
Doa merupakan bentuk pengakuan bahwa seluruh keberhasilan keluarga berasal dari
pertolongan Allah. Salah satu doa yang dianjurkan dalam Al-Qur'an adalah "Ya
Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan dan keturunan kami sebagai
penyejuk hati kami, dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang
bertakwa." (QS. Al-Furqan [25]:
74).
Doa tersebut mengajarkan bahwa keberhasilan keluarga
tidak hanya diukur dari kebahagiaan dunia, tetapi juga dari kemampuan
melahirkan generasi yang bertakwa dan bermanfaat bagi masyarakat. Pada
akhirnya, keberkahan keluarga lahir dari perpaduan antara ketakwaan, ibadah
yang istiqamah, akhlak yang mulia, pendidikan yang baik, serta doa yang tidak
pernah putus. Keluarga yang menjadikan Al-Qur'an dan Sunnah sebagai pedoman
akan memperoleh ketenangan hidup, keberkahan rezeki, serta kebahagiaan yang
berkesinambungan di dunia dan akhirat. Oleh sebab itu, setiap muslim hendaknya
terus berupaya membangun rumah tangga yang berlandaskan nilai-nilai Islam agar
menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah, wa rahmah.(*)
Referensi:
Al-Qur'an al-Karim.
Shahih al-Bukhari.
Shahih Muslim.
Sunan Abu Dawud.
Jami' at-Tirmidhi.
Tafsir al-Mishbah.
Fi Zilal al-Qur'an.
Riyadhus Shalihin.