KETIKA ULAMA MENJAUH DARI MASJID: SIAPA YANG KEHILANGAN ARAH?

04 May 2026  |  116 views
KETIKA ULAMA MENJAUH DARI MASJID: SIAPA YANG KEHILANGAN ARAH?

*Oleh: Agustri

Masjid sejak awal bukan sekadar tempat ibadah ritual, melainkan pusat kehidupan umat. Di sanalah nilai-nilai keislaman ditanamkan, persoalan umat dibahas, dan arah peradaban dirumuskan. Dalam sejarah Islam, masjid dan ulama adalah dua entitas yang nyaris tak terpisahkan. Ulama hadir sebagai penjaga ilmu, pembimbing akhlak, sekaligus penuntun umat dalam memahami agama secara utuh. Namun, di tengah dinamika zaman yang terus berubah, muncul fenomena yang patut direnungkan: ketika ulama mulai menjauh dari masjid, siapa sebenarnya yang kehilangan arah?

Menjauhnya ulama dari masjid tidak selalu berarti fisik semata. Ia bisa berbentuk berkurangnya keterlibatan aktif dalam pembinaan jamaah, minimnya kehadiran dalam kegiatan keagamaan di masjid, atau bahkan pergeseran peran ulama ke ruang-ruang lain yang dianggap lebih strategis, seperti media sosial, panggung politik, atau forum-forum eksklusif. Di satu sisi, ekspansi dakwah ke ruang digital memang penting dan tak terelakkan. Namun di sisi lain, jika masjid sebagai basis utama justru ditinggalkan, maka akan terjadi kekosongan yang tidak mudah diisi.

Masjid yang kehilangan sentuhan ulama berisiko berubah fungsi menjadi sekadar tempat ibadah formal. Ia tetap ramai saat salat berjamaah, tetapi miskin akan kedalaman makna. Ceramah menjadi rutinitas tanpa ruh, pengajian kehilangan arah, dan generasi muda tidak lagi menemukan figur panutan yang dekat dengan mereka. Dalam kondisi seperti ini, masjid bisa saja berdiri megah secara fisik, tetapi rapuh secara spiritual.

Sebaliknya, ulama yang menjauh dari masjid juga menghadapi tantangan serius. Tanpa keterhubungan langsung dengan jamaah, ulama berpotensi kehilangan sensitivitas terhadap persoalan riil umat. Dakwah bisa menjadi terlalu normatif, kurang membumi, bahkan terkesan elitis. Padahal, kekuatan ulama sejatinya terletak pada kedekatannya dengan umat, pada kemampuannya mendengar, merasakan, dan memberikan solusi atas persoalan yang dihadapi masyarakat sehari-hari.

Pertanyaannya kemudian, siapa yang sebenarnya kehilangan arah? Jawabannya: keduanya. Masjid tanpa ulama kehilangan bimbingan, sementara ulama tanpa masjid kehilangan pijakan. Keterputusan ini pada akhirnya berdampak pada umat secara keseluruhan. Umat menjadi rentan terhadap pemahaman agama yang dangkal, terpecah oleh narasi yang tidak utuh, dan mudah terpengaruh oleh sumber-sumber yang belum tentu memiliki otoritas keilmuan yang jelas.

Di era digital saat ini, tantangan memang semakin kompleks. Otoritas keagamaan tidak lagi terpusat pada figur-figur tradisional. Siapa pun bisa berbicara tentang agama, dan tidak semuanya memiliki kapasitas yang memadai. Di sinilah peran ulama menjadi semakin penting, bukan untuk bersaing, tetapi untuk meneguhkan. Dan tempat paling strategis untuk itu tetaplah masjid.

Mengembalikan harmoni antara ulama dan masjid bukan berarti menolak perkembangan zaman, tetapi menyeimbangkannya. Ulama tetap bisa aktif di ruang digital, tetapi tidak meninggalkan masjid sebagai basis utama dakwah. Masjid pun perlu dikelola secara lebih terbuka, inklusif, dan responsif terhadap kebutuhan jamaah, sehingga menjadi ruang yang hidup dan relevan bagi semua kalangan.

Akhirnya, masjid dan ulama adalah dua pilar yang saling menguatkan. Ketika salah satunya menjauh, yang lain akan goyah. Maka, menjaga kedekatan keduanya bukan sekadar kebutuhan institusional, melainkan keharusan peradaban. Karena dari masjid yang hidup dan ulama yang membimbing, arah umat akan tetap terjaga.

 


Bagikan:
Facebook WhatsApp X